Arsip Berita
Berita Media
Latihan Perang: Agresi di Laut Natuna
Latihan Perang: Agresi di Laut Natuna |
|
|
| Ditulis Oleh Kompas | |
| Rabu, 22 Pebruari 2012 | |
|
Dermaga
Fasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan TNI AL di Mentigi, Bintan, meledak oleh
bom dari pesawat musuh. Bom juga dijatuhkan ke Kapal Republik Indonesia Banda
Aceh, KRI Yos Sudarso, dan KRI Siliman yang berlabuh di dermaga tersebut.
KRI
Banda Aceh yang baru bergabung dengan armada Tentara Nasional Indonesia
Angkatan Laut pada Maret 2011 itu terbakar di bagian dek helikopter. Beberapa
awak kapal pendarat itu terluka dalam serangan mendadak tersebut dan segera
dievakuasi oleh tim medis. Awak kapal lainnya menembakkan senjata ke pesawat
musuh dari dek atas kapal buatan PT PAL Indonesia, Surabaya, tersebut.
Perlawanan
lebih sengit diberikan awak KRI Yos Sudarso. Senapan-senapan mesin di dek kapal
menembaki pesawat musuh. Awak fregat itu juga melepaskan roket Mistral.
Hantaman roket anti-serangan udara itu menghancurkan pesawat musuh.
Pertempuran
di pangkalan itu bagian dari skenario Latihan Tingkat Tiga TNI AL Komando
Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar). Latihan berlangsung tiga haru mulai Minggu
(19/2). “Selain di sini, latihan juga digelar di Laut Natuna,” ujar perwira
pelaksana latihan Kolonel Laut Denih Hendrata.
TNI
AL mengerahkan 14 kapal perang berbagai jenis, 2 tank, 2 panser, dan 1 pesawat
dalam latihan itu. Total ada 1.100 prajurit yang terlibat dalam latihan perang
tersebut. “Dari 14 kapal, tujuh berperan sebagai armada musuh,” ujar Komandan
KRI Sutedi Senaputra Letnan Kolonel laut Agam Endrasmoro yang terlibat dalam latihan
tersebut.
Komandan
korvet kelas parchim tersebut menuturkan, tujuh kapal musuh diskenariokan masuk
ke wilayah Natuna yang kaya minya dan gas. Selain itu, wilayah tersebut juga
menjadi jalur pelayaran dunia, yakni Selat Malaka. “Kami menyiapkan operasi
Pemutusan Garis Perhubungan Laut Lawan (PGPLL),” ujar Agam.
Dalam
pertempuran di Laut Natuna itu, tujuh kapal TNI AL melakukan simulasi
anti-kapal permukaan, anti-kapal selam dan anti-serangan udara. Korvet uang
dikomandoi Agam termasuk kapal perang yang terlibat dalam pertempuran
anti-kapal selam. Selain itu, ada pula KRI Wiratno dan KRI Cut Nyak Dien dalam
simulasi pertempuran tersebut.
Selain
berlatih perang, awak kapal-kapal perang juga berlatih memasok logistik di
tengah laut. KRI Banda Aceh difungsikan sebagai kapal pemasok logistik untuk
kapal-kapal perang lain yang tengah beroperasi laut. “Ada latihan penembakan
sasaran di sekitar Pulau Kayu Ara,” ujar Denih.
Pendaratan
Selepas
pertempuran laut, armada tempur diarahkan ke selatan menuju Pulau Mantang. Di
pulau itu, ada latihan penerjunan dan pendaratan pasukan. Dua tank PT-76 dan
dua panser BTR dikerahkan dalam latihan itu. “Untuk pendaratan amfibi, pakai
PT-76,” ujar Agam.
Pulau
di selatan Pulau Bintan tersebut diskenariokan direbut kembali. Untuk
merebutnya, digunakanlah pendaratan pasukan dan tank. “Setelah dipukul oleh
pendaratan pertama, dikirim pasukan kedua untuk pendaratan administrasi,”
ujarnya.
Pendaratan
administrasi menandakan wilayah sudah direbut kembali. Tinggal mengerahkan
pasukan untuk memburu sisa-sisa musuh.
(Kris
Razianto Mada) |