Beranda arrow Arsip Berita arrow Berita Media arrow Leopard: Tank Besar yang Semakin Tersisih

Leopard: Tank Besar yang Semakin Tersisih

Cetak E-mail
Ditulis Oleh Kompas   
Senin, 06 Pebruari 2012

Deretan bangkai tank raksasa (main battle tank) menjadi besi tua adalah  pemandangan tragis medan tempur modern pada Perang Arab-Israel dalam Perang enam Hari (1967) dan Perang Yom Kippur (1973) hingga serangan Amerika-Sekutu terhadap Irak pada Perang Teluk I (Agustus 1990-Februari 1991) dan Perang Teluk II (Maret-Mei 2003).

 

Tank-tank raksasa milik Mesir dan Irak sekelas tank Leopard yang diincar TNI AD itu dihancurkan karena mereka tidak memiliki perlindungan, yakni payung udara. Perlindungan memadai dari satuan pesawat udara berupa jet tempur, helikopter tempur, artileri pertahanan udara adalah syarat utama bagi sebuah negara sebelum memiliki tank raksasa atau tank tempur utama (main battle tank/MBT).

 

Selain itu diperlukan jalan raya kualitas tinggi yang mampu menahan beban di atas 100 ton berat kendaraan. Sebuah tank berat memiliki bobot di atas 60 ton dan mereka harus diangkut trailer pengangkut yang memiliki bobot di atas 20 ton.

 

Direktur Research Institute for Democracy and Peace (Ridep) Anton Ali Abbas yang ditemui di Imparsial menerangkan, jalanan di ibut kota jakarta yang konon terbaik di Indonesia pun selalu rusak saat dilintasi tank-tank terberat Marinir TNI AL yang bobotnya 20-an ton!

 

Belum lagi kondisi alam sangat menentukan sebuah MBT bisa digunakan secara efektif atau tidak. Pengamat militer Andi Widjayanto yang dihubungi Selasa (31/1) mengakui, pertempuran besar terakhir yang melibatkan perang sesama MBT terjadi semasa Perang Dunia II di Kursk (450 kilometer selatan Moskow). Ketika itu, 2.928 tank Jerman berhadapan dengan 5.128 tank Uni Soviet. Satuan tank itu dipihak Jerman Nazi didukung 2.110 pesawat, 9.9966 meriam dan mortir, 780.900 prajurit dan di pihak Uni Soviet didukung 2.792 pesawat, 25.013 meriam dan mortir, serta 1.910.361 prajurit.

 

Pertempuran terjadi dalam dua babak, yakni serangan Jerman pada 5-16 Juli 1943 dan serangan balik Uni Soviet tanggal 12 Juli-23 Agustus 1943. Akhirnya Jerman dikalahkan Uni Soviet. Andi menjelaskan itulah kali terakhir terjadi perang besar tank melawan tank di medan benua daratan.

 

Sejarah belum pernah mencatat terjadi perang tank melawan tank di negara kepulauan. Adapun tank yang digunakan militer Jepang di bawah pimpinan Jenderal Tomoyoki Yamashita dalam serangan ke Malaya dan Singapura pada 1941-1942 adalah tank ringan yang mampu melintasi jalan raya biasa dan hutan tropis.

 

Anton yang juga alumnus Universitas Pertahanan mengatakan, Indonesia tidak memiliki doktrin agresi sehingga yang diperlukan adalah kemampuan mencegat  musuh (intercept) tidak sampi masuk ke daratan di Indonesia, ‘Untuk itu diperlukan kekuatan laut dan udara yang terpadu untuk mencegah jangan sampai musuh masuk ke Indonesia. Kalau hanya memperkuat militer di daratan berarti membiarkan musuh masuk terlebih dahulu baru dihempur. Itu logika yang terbalik dan tidak dapat dinalar,” ujar Anton.

 

Direktur Institute for Defense Security and Peace Studies Mufti Makarim yang ditemu di Imparsial mengingatkan, seharusnya TNI AD berkonsentrasi dalam upaya membentuk serdadu yang memiliki mental baik sebagai tentara rakyat yang dibiayai pembayar pajak dan kesejahteraan bernilai triliunan rupiah. “Lebih baik membentuk mental prajurit yang kompatibel dengan negara demokrasi modern seperti Indonesia. Tanpa itu kemungkinan besar persenjataan seperti tank yang sulit digelar karena rendahnya kualitas jalan raya di Indonesia justru akan digunakan rakyat Indonesia,” ujar Mufti.

 

Secara singkat, rencana pembelian satu divisi tank Leopard dari Belanda tidak bisa dinalar.

 

(IWAN SANTOSA)