Arsip Berita
Pers Release
UNDANG-UNDANG NKRI: NEGARA KESATUAN REPUBLIK INTELIJEN!
UNDANG-UNDANG NKRI: NEGARA KESATUAN REPUBLIK INTELIJEN! |
|
|
| Ditulis Oleh Koalisi Advokasi RUU Intelijen | |
| Selasa, 11 Oktober 2011 | |
|
Agenda
pengesahan Rancangan Undang-Undang Intelijen Negara tinggal selangkah lagi.
Pengesahan tersebut adalah buah kompromi politik yang didukung penuh oleh
Komisi I DPR RI dan Pemerintah, dalam hal ini Badan Intelijen Negara (BIN) dan
Kementerian Hukum dan HAM.
Pasal-pasal yang multitafsir tidak bisa dijadikan ukuran untuk menarik BIN
pada arena akuntabilitas publik. Sayangnya, Pemerintah Republik Indonesia pun
menggunakan otoritas politiknya untuk ikut memberikan legitimasi kepada BIN
sebagai ujung tombak koordinasi intelijen nasional yang tertutup ini.
BIN dengan segenap otoritas yang spesifik dan mendalam, kelak akan menjadi
sebuah institusi terkuat di Indonesia, yang mampu melakukan penyadapan,
pemeriksaan aliran dana dan penggalian informasi kepada seluruh warga Indonesia
dengan alasan kepentingan politik keamanan.
BIN dengan legitimasi keamanannya juga mampu menuduh publik (orang atau
badan hukum) sebagai pihak yang harus mempertanggungjawabkan kebocoran rahasia
intelijen.
BIN dengan kewenangan khususnya, kelak akan mampu memberikan rekomendasi
yang isinya memberi persetujuan dan atau penolakan terhadap individu yang ingin
menjadi Warga Negara Indonesia. Bahkan bisa menolak mereka yang ingin melakukan
aktivitas akademik di Indonesia dengan alasan Keamanan dan Kepentingan
Nasional.
Kompromi politik ini adalah pertanda bahwa DPR RI dan Pemerintah telah
menggadaikan hak asasi manusia dan khususnya jaminan kebebasan sipil warga
negara Indonesia. Secara resmi hari ini sudah tidak ada lagi Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Melainkan Negara Kesatuan Republik Intelijen, karena negara
telah memilih untuk menggadaikan jaminan rasa aman warga Indonesia kepada
aktor-aktor keamanan.
Jakarta, 11 Oktober 2011
Imparsial, KontraS, IDSPS, Elsam, Ridep Institute,
Lesperssi, YLBHI, ICW, LBH Masyarakat, Praxis, HRWG, Infid, Yayasan SET, KRHN,
Leip, Ikohi, Foker Papua, Setara Institute, PBHI Jakarta, LBH Jakarta, PSHK,
MAPPi, MediaLink, Bambang Widodo Umar (Individu) |