Arsip Berita
Publikasi IDSPS
Trending Topic Media Minggu Ketiga Januari 2012
Trending Topic Media Minggu Ketiga Januari 2012 |
|
|
| Ditulis Oleh Nur Alia Pariwita | |
| Rabu, 25 Januari 2012 | |
|
Perdebatan mengenai rencana Kementerian Pertahanan (Kemhan) membeli 100
unit tank Leopard (50 tipe 2A4 dan 50 tipe 2A6) mewarnai
pemberitaan media minggu ini. Indonesia kini tengah memulai proses modernisasi
persenjataan militer. Pengembangan kekuatan alat utama sistem persenjataan
(alutsista) menjadi kebutuhan TNI untuk meningkatkan profesionalismenya. Pemerintah
mendukung hal tersebut dengan meningkatkan anggaran pertahanan tahun ini menjadi
Rp 64,4 triliun, yang naik hampir tiga kali lipat dari anggaran tahun 2006
senilai Rp 23,92 triliun.
Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 35 Tahun 2011 tentang Percepatan
Pemenuhan Kekuatan Pokok Minimal Alutsista TNI Tahun 2010-2014, pemerintah mengalokasikan
anggaran untuk memenuhi kekuatan pokok minimal alutsista sebesar Rp 57 triliun.
Anggaran senilai Rp 7 triliun telah dialokasikan pemerintah melalui Daftar
Isian Pelaksanaan Anggaran Kemhan Tahun Anggaran 2010.
Kontroversi mengenai rencana pembelian tank Leopard terjadi karena
Kementerian Pertahanan bersikukuh membeli tank berat (main battle tank) tersebut, sementara Komisi I DPR menolaknya. Penolakan DPR memang belum dilakukan secara resmi karena menurut Wakil
Ketua Komisi I DPR RI Tubagus Hasanuddin, Kemhan juga belum memberikan
keterangan yang rinci mengenai alasan pembelian tank tersebut.
Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro mengatakan pembelian tank
Leopard didasarkan kebutuhan matra darat. Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD)
Jenderal Pramono Edhi Wibowo menjelaskan bahwa Batalyon Kavaleri meminta tank
berat tersebut. Kemhan menegaskan pembelian tank Leopard dilakukan untuk memodernisasi
peralatan militer dalam rangka memenuhi strategi pertahanan dan memenuhi
varian teknologi sebagai tuntutan dari revolusi militer negara ASEAN. KSAD juga menerangkan bahwa Malaysia dan
Singapura telah memiliki tank berat, padahal kondisi geografis negara tersebut
tidak jauh berbeda dengan Indonesia. KSAD menambahkan, keberadaan alutsista
canggih dibutuhkan untuk meningkatkan daya tangkal. Hal itu, menurutnya, juga
berdampak pada psikologi prajurit, dengan alutsista yang memadai, mental
prajurit untuk menang perang semakin tinggi.
Rencana pembelian tank Leopard produksi Jerman yang dimiliki Belanda ini,
sebenarnya masih terganjal di Parlemen Belanda. Beberapa partai politik,
seperti Partai Groenlinks, Partai Sosial Demokrat, dan Partai Sosial meminta
pemerintah Belanda untuk tidak menjual tank Leopard kepada Indonesia. Mereka
menilai Indonesia berdasarkan rekam jejak dalam kasus pelanggaran hak asasi
manusia (HAM) dan khawatir pembelian tank-tank tersebut digunakan untuk
melanggar HAM.
Perdebatan mengenai rencana pembelian tank Leopard muncul karena tank
tersebut dinilai tidak sesuai dengan kondisi geografis Indonesia yang merupakan
negara kepulauan. Tank berbobot 62 ton ini cocok untuk negara kontinental
dengan daratan luas. Tank Leopard memiliki kemampuan tembak hingga 6 kilometer.
Tubagus Hasanuddin mengatakan bahwa Indonesia membutuhkan tank dengan kemampuan
menembak lurus 1-2 kilometer. Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq menyatakan tak
perlu membeli tank Leopard dan lebih baik mengembangkan industri pertahanan
dalam negeri. PT Dirgantara Indonesia telah membuat prototipe tank medium yang
berbobot 23 ton, lincah, dan dapat bergerak ke medan yang sulit.
Perdebatan lain yang dihadapi terkait pembelian tank Leopard adalah
persoalan suku cadang. Pembelian tank Leopard saat ini dianggap dapat menghemat
anggaran, tetapi jika memperhatikan aspek jangka panjang terkait ketersediaan
suku cadang, membeli tank produksi dalam negeri dinilai lebih hemat.
Indonesia Police Watch mengingatkan untuk melakukan pengawasan yang
ketat dalam proses pengadaan tank Leopard.
Hal tersebut dibutuhkan agar tidak terjadi ”permainan”, korupsi, dan
gratifikasi antarpihak terkait atau dengan perusahaan produsen. Menhan menanggapinya
dengan mempersilahkan Komisi Pemberantasan Korupsi memantau proses pengadaan
tank Leopard. Ia juga menjelaskan bahwa Kemhan memiliki sistem pengawasan dalam
pengadaan barang dan jasa. Pengawasan dilakukan oleh Komisi Tertinggi Kemhan
yang dipimpin oleh Wamenhan dan Tim Konsultasi Pencegahan Penyimpangan
Pengadaan Barang dan Jasa yang dipimpin Irjen.
Kemhan perlu segera memberikan penjelasan rinci terkait pentingnya pembelian
tank Leopard. KSAD pun menyatakan siap memberikan penjelasan kepada DPR
mengenai pembelian tank berat ini. Penjelasan tersebut diharapkan dapat
menjawab pertanyaan, seperti mengapa harus membeli 100 unit tank Leopard?
Bagaimana mekanisme alih teknologi terkait pengadaan tank berat? Bagaimana
dengan alternatif pilihan tank berat dari Rusia, Korea Selatan, Turki, Ukraina,
dan Inggris? Mengapa tank ini akan ditempatkan di Jawa, bukan di Kalimantan
atau Papua yang merupakan wilayah perbatasan Indonesia dengan negara tetangga?
Penjelasan Kemhan sangat krusial untuk mengetahui alasan mendasar
dibutuhkannya tank berat ini yang dikatakan sebagai upaya memperkuat dan
memodernisasi alutsista matra darat. Masyarakat juga perlu tahu pajak yang
mereka bayarkan ke negara dipergunakan untuk apa dan semoga pembelian tank
Leopard tidak dilakukan karena tergiur diskon yang diberikan oleh pemerintah
Belanda. |