Beranda arrow Arsip Berita arrow Publikasi IDSPS arrow Trending Topic Media Minggu Pertama Januari 2012

Trending Topic Media Minggu Pertama Januari 2012

Cetak E-mail
Ditulis Oleh Nur Alia Pariwita   
Kamis, 19 Januari 2012

Penembakan misterius di Aceh mengawali pembukaan tahun 2012. Menjelang malam pergantian tahun, 31 Desember 2011 sekitar pukul 21.00 WIB, terjadi penembakan di Mess Telkom di Bireun, Aceh. Tiga pekerja tewas dan tujuh lainnya terluka. Seluruh korban adalah pekerja pendatang asal Jawa Timur. Berselang sehari, 1 Januari 2012 pada waktu yang tidak berjauhan dari penembakan sehari sebelumnya, seorang warga tewas  di warung kopi, Desa Seureuke, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara. Teror masih berlangsung hingga Kamis malam sekitar pukul 19.05 WIB pada 5 Januari 2012. Tiga orang dilaporkan ditembak di kawasan Simpang Aneuk Galong Sibreh, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Aceh Besar. Sebelum kejadian penembakan menjelang tahun baru 2012, teror telah terjadi pada 4 Desember 2011 di PT Setia Agung, Aceh Utara. Kejadian tersebut menewaskan tiga orang dan lima orang mengalami luka. Seluruh aksi teror tersebut dilakukan oleh kelompok orang tidak dikenal.

 

Kejadian ini kembali mencuatkan persoalan keamanan di Aceh. Pernyataan bersama lembaga swadaya masyarakat di Aceh menjelaskan bahwa teror yang terjadi beberapa waktu terakhir ini diduga terkait dengan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah  (pemilukada). Pemilukada rencananya diselenggarakan pada 16 Februari mendatang. Upaya membuat Aceh tidak aman dengan menyebar teror dan menargetkan sasaran kepada etnis tertentu, tidak hanya akan mengganggu penyelenggaraan pemilukada, tetapi juga perdamaian di Aceh. Pernyataan bersama ini dikeluarkan oleh KontraS Aceh, GeRAK Aceh, dan koalisi NGO HAM.

 

Direktur Lembaga Bantuan Hukum Aceh Hospi Novizal, yang menjadi juru bicara dalam pernyataan bersama lembaga swadaya masyarakat tersebut, menjelaskan bahwa pemerintah pusat harus menuntaskan kisruh pemilukada. Muara dari hal ini adalah kompromi semua pihak untuk menyelesaikan persoalan pemilukada dan menjaga keamanan di Aceh. Ia menuturkan bahwa terlalu dini jika menilai ’penyebaran teror’ tidak dilandasi oleh kisruh pemilukada dan hanya sebatas kasus kriminal murni. Pihaknya meminta polisi mengusut tuntas kasus tersebut.

 

Gubernur Aceh Irwandi Yusuf menyatakan bahwa kasus penembakan oleh orang tidak dikenal, tidak ada kaitannya dengan pemilukada. Hal senada juga diutarakan oleh Panglima Kodam Iskandar Muda (IM) Mayjen TNI Adi Mulyono. Ia juga mengakui peredaran senjata ilegal masih terjadi di Aceh. Walaupun pihaknya telah berhasil mengamankan 227 pucuk senjata api ilegal selama setahun ini. Jajaran TNI mengharapkan agar pihak yang masih memegang senjata api ilegal, segera menyerahkannya ke pihak yang berwajib. Lebih lanjut lagi, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Aceh Ajun Komisaris Besar Gustav Leo mengatakan Polda Aceh masih melakukan pengembangan terhadap kasus penembakan yang terjadi di awal minggu ini.

 

Kegagalan polisi dalam menjaga keamanan kembali terlihat dengan adanya teror di Aceh. Lemahnya kemampuan intelijen dalam melakukan deteksi dini juga dianggap sebagai salah satu penyebab terjadinya teror. Pengamat intelijen Wawan Purwanto menjelaskan kekisruhan yang terjadi belakangan ini dipicu manuver politik dan kepentingan kelompok tertentu serta dan kita tidak bisa menyebutnya sebagai kelemahan intelijen. Wawan menuturkan intelijen Indonesia hanya berfungsi sebagai support information dan bukan sebagai lembaga eksekutor.

 

Kesenjangan sosial antar warga kemudian dijadikan dalih atas teror yang melanda Aceh. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto memaparkan bahwa aksi teror lebih terkait dengan masalah kecemburuan sosial antara penduduk lokal dengan para pendatang. Penduduk lokal merasa tidak diberdayakan dalam pekerjaan-pekerjaan dan program pembangunan daerah.

 

Proses perdamaian dan upaya menjaga perdamaian di Aceh jangan sampai dinodai oleh kepentingan kelompok-kelompok tertentu. Pemerintah harus cermat menangani persoalan ini. Aceh dan Papua merupakan wilayah paling barat dan paling timur Indonesia yang memiliki sejarah konflik yang panjang. Namun melihat keadaan saat ini, gejolak tidak hanya berlangsung di dua wilayah yang menjalankan Otonomi Khusus tersebut. Wilayah lain di Nusantara juga masih terus bergolak, seperti Mesuji dan Sape.

 

Apakah keamanan dan rasa aman kini telah menjadi barang mewah dan hanya dapat dinikmati oleh kelompok tertentu saja? Masih ada 357 hari membentang di tahun 2012 yang harus segera diisi dengan usaha lebih keras dan tindakan nyata oleh pemerintah dan didukung oleh masyarakat untuk membuat keadaan Indonesia menjadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.