Arsip Berita
Publikasi IDSPS
Trending Topic Media Minggu Pertama Januari 2012
Trending Topic Media Minggu Pertama Januari 2012 |
|
|
| Ditulis Oleh Nur Alia Pariwita | |
| Kamis, 19 Januari 2012 | |
|
Kejadian ini kembali mencuatkan persoalan keamanan di Aceh. Pernyataan
bersama lembaga swadaya masyarakat di Aceh menjelaskan bahwa teror yang terjadi
beberapa waktu terakhir ini diduga terkait dengan penyelenggaraan pemilihan kepala
daerah (pemilukada). Pemilukada
rencananya diselenggarakan pada 16 Februari mendatang. Upaya membuat Aceh tidak
aman dengan menyebar teror dan menargetkan sasaran kepada etnis tertentu, tidak
hanya akan mengganggu penyelenggaraan pemilukada, tetapi juga perdamaian di
Aceh. Pernyataan bersama ini dikeluarkan oleh KontraS Aceh, GeRAK Aceh, dan
koalisi NGO HAM.
Direktur Lembaga Bantuan Hukum Aceh Hospi Novizal, yang menjadi juru bicara
dalam pernyataan bersama lembaga swadaya masyarakat tersebut, menjelaskan bahwa
pemerintah pusat harus menuntaskan kisruh pemilukada. Muara dari hal ini adalah
kompromi semua pihak untuk menyelesaikan persoalan pemilukada dan menjaga
keamanan di Aceh. Ia menuturkan bahwa terlalu dini jika menilai ’penyebaran
teror’ tidak dilandasi oleh kisruh pemilukada dan hanya sebatas kasus kriminal
murni. Pihaknya meminta polisi mengusut tuntas kasus tersebut.
Gubernur Aceh Irwandi Yusuf menyatakan bahwa kasus penembakan oleh orang
tidak dikenal, tidak ada kaitannya dengan pemilukada. Hal senada juga
diutarakan oleh Panglima Kodam Iskandar Muda (IM)
Mayjen TNI Adi Mulyono. Ia juga mengakui peredaran senjata ilegal masih terjadi
di Aceh. Walaupun pihaknya telah berhasil mengamankan 227 pucuk senjata api
ilegal selama setahun ini. Jajaran TNI mengharapkan agar pihak yang masih
memegang senjata api ilegal, segera menyerahkannya ke pihak yang berwajib.
Lebih lanjut lagi, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Aceh
Ajun Komisaris Besar Gustav Leo mengatakan Polda Aceh masih melakukan
pengembangan terhadap kasus penembakan yang terjadi di awal minggu ini.
Kegagalan polisi dalam menjaga keamanan kembali terlihat dengan adanya
teror di Aceh. Lemahnya kemampuan intelijen dalam melakukan deteksi dini juga
dianggap sebagai salah satu penyebab terjadinya teror. Pengamat intelijen Wawan
Purwanto menjelaskan kekisruhan yang terjadi belakangan ini dipicu manuver
politik dan kepentingan kelompok tertentu serta dan kita tidak bisa menyebutnya
sebagai kelemahan intelijen. Wawan menuturkan intelijen Indonesia hanya
berfungsi sebagai support information
dan bukan sebagai lembaga eksekutor.
Kesenjangan sosial antar warga kemudian dijadikan dalih atas teror yang
melanda Aceh. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko
Suyanto memaparkan bahwa aksi teror lebih terkait dengan masalah kecemburuan
sosial antara penduduk lokal dengan para pendatang. Penduduk lokal merasa tidak
diberdayakan dalam pekerjaan-pekerjaan dan program pembangunan daerah.
Proses perdamaian dan upaya menjaga perdamaian di Aceh jangan sampai dinodai
oleh kepentingan kelompok-kelompok tertentu. Pemerintah harus cermat menangani
persoalan ini. Aceh dan Papua merupakan wilayah paling barat dan paling timur
Indonesia yang memiliki sejarah konflik yang panjang. Namun melihat keadaan
saat ini, gejolak tidak hanya berlangsung di dua wilayah yang menjalankan
Otonomi Khusus tersebut. Wilayah lain di Nusantara juga masih terus bergolak,
seperti Mesuji dan Sape.
Apakah keamanan dan rasa aman kini telah menjadi barang mewah dan hanya
dapat dinikmati oleh kelompok tertentu saja? Masih ada 357 hari membentang di
tahun 2012 yang harus segera diisi dengan usaha lebih keras dan tindakan nyata
oleh pemerintah dan didukung oleh masyarakat untuk membuat keadaan Indonesia
menjadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. |